Hallo, selamat datang di blog ini!
Mungkin tak banyak dari kalian yang
mengetahui seberapa berat pekerjaan seorang tenaga kerja berita. Mungkin ada
yang menyangka bahwa pekerjaan mereka itu mudah, hanya meliput berita dan
menyampaikannya ke masyaarakat. Apalagi ditambah dengan perkembangan teknologi
yang ‘sepertinya’ menambah mudah pekerjaan mereka. Tapi, apakah teknologi
bener-benar mempermudah pekerjaan mereka? Ataukah teknologi malah mempersulit
mereka? Kali ini bahasan kita mengenai bagaimana kondisi kerja jurnalis dalam konteks berkelanjutan dari digitalisasi dan komersialisasi media,
khususnya dalam jurnalisme online. Ok, langsung saja!!
Peran teknologi dalam “kapitalisme
baru” tidak dapat diabaikan. Teknologi digital baru sering dianggap sebagai
pendorong utama di balik perubahan ekonomi dan organisasi tempat kerja. Industri
media telah terpukul oleh resesi ekonomi global beberapa tahun terakhir. Dilaporkan
bahwa di Eropa dan Amerika sejumlah
besar orang telah kehilangan pekerjaannya. Selain karena resesi, situasi ini
juga merupakan hasil dari perubahan organisasi struktural media yang didorong
oleh logika pasar dimana memiliki tujuan untuk mengurangi biaya sambil
meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan laba. Beberapa studi yang telah dilakukan
umumnya melukis gambaran suramnya kerja jurnalistik, yaitu:
Pekerjaan yang tidak lazim dan
tidak pasti
Berdasarkan
survei global afiliansi Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) di 38 negara, diketahui
bahwa terdapat pertumbuhan hubungan kerja yang tidak biasa dalam industri
media. “Pekerjaan tidak biasa” mengacu pada jenis pekerjaan yang tidak permanen
dan/atau penuh waktu, yang sepertinya dapat diidentifikasi sebagai pekerjaan freelance,
kontrak sementara, dan paruh waktu.
Pekerjaan
lepas (freelance)
Saat
ini telah banyak orang yang menyebut dirinya seorang freelancer. Banyak diantara mereka termotivasi oleh keinginan untuk
memiliki lebih banyak kebebasan dan otonomi dalam kehidupan mereka. Namun, tak
sedikit juga yang menyatakan bahwa keuangan merupakan salah satu faktor bagi mereka menjadi seorang freelancer. Dahulu, freelance lebih dikaitkan dengan jurnalis veteran, namun saat ini
terlihat bahwa usia rata-rata pekerja lepas semakin menurun. Semakin muda freelancer, semakin besar kemungkinan
mereka mendapat konsekuensi negatif, seperti ketidaknyamanan kerja, kurangnya
prospek promosi, dan upah yang rendah. Berkatian dengan freelancing jurnalisme online, kemungkinan besar mereka mendapatkan
persaingan dari sukarelawan citizen journalist.
Kontrak
sementara dan pekerjaan paruh waktu
Ada
sebuah persepsi umum dalam industri media, seperti magang yang tak dibayar,
penugasan yang dibayar rendah, dan kontrak jangka pendek. Dari hal tersebut
kita bisa membayangkan bahwa kontak permanen dan pekerjaan penuh waktu menjadi
hal di jurnalisme. Namun, survei wartawan di Flanders tahun 2008 menyatakan
bahwa lebih dari tiga perempat jurnalis profesional pada saat itu bekerja dengan
kontrak permanen. Tapi, ini bukan berarti menyatakan bahwa pekerjaan berita
tidak berubah.
Fleksibilitas
fungsional dan multiskilling
fleksibilitas
mungkin merupakan istilah yang paling banyak digunakan dalam deskripsi tentang
perubahan kondisi kerja dalam jurnalisme. Hal ini akibat upaya manajerial untuk
mengembangkan kontrol mereka atas tenaga kerja, dimana mereka membutuhkan
profesional dengan banyak keahlian yang mampu melakukan banyak tugas yang
berbeda di seluruh organisasi.
Jurnalisme
multimedia
Inti
dari jurnalis multimedia adalah bahwa jurnalis dituntut untuk dapat
menghasilkan konten untuk berbagai platform. Karena perlu disadari bahwa mereka
tidak tahu apakah mereka akan bekerja di media cetak, siaran, atau online, jadi
mereka harus terbiasa dengan berbagai jenis media. Dalam konteks ruang berita
yang konvergen ini, pentingnya multiskilling tampaknya jelas. Sebagian besar
wartawan di Flemish mengakui pentingnya kemampuan multimedia ini. temuan ini
konsisten dengan studi sebelumnya tentang jurnalisme online di negara lain yang
telah menekankan pentingnya keterampilan teknologi untuk jurnalis.
Pelebaran
pekerjaan
Wartawan
di ruang redaksi konvergen mendapatkan lebih banyak tugas dan tanggung jawab
daripada mereka yang hanya bekerja untuk satu media saja. Selain berkutat di ruang
berita, kemungkinan besar mereka akan mendapat tugas untuk menjadi “manajer
komunitas” yang berperan dalam mengawasi, mengkoordinasi, dan merangsang
partisipasi dalam proses produksi berita. Selain itu ada “moderator komentar”,
dimana mereka bertanggung jawab untuk memantau dan memfilter reaksi pengguna di
situs web organisasi. Ada juga “moderator obrolan”, yang bertugas mengatur
obrolan langsung dengan pengguna situs. Tugas-tugas tersebut dilimpahkan kepada
jurnalis karena pihak perusahaan media tidak ingin mengeluarkan dana lagi untuk
membayar staf khusus.
Beban
kerja meningkat
Multiskilling
dan pembesaran pekerjaan membebani para jurnalis. Studi tentang komputerisasi
dan digitalisasi ruang redaksi menyatakan kekhawatiran tentang tekanan kerja
berat muncul di banyak negara. Padahal jika dilihat dalam sejarah, teknologi
seharusnya mempermudah dan mempercepat kinerja bukannya menambah beban. Namun, jika
kita lihat disisi lain, kita akan menyadari bahwa beban dan tekanan kerja yang
dirasakan oleh pekerja berita diakibatkan oleh manajemen perusahaan media. Teknologi
selalu digunakan oleh manajemen sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas
dan efisiensi biaya ruang redaksi. Dengan kata lain, ini bukan karena teknologi,
melainkan terntang obsesi manajemen dalam pengurangan biaya dan memaksimalkan
produktivitas yang mengarah pada peningkatan beban kerja.
Kekurangan
waktu
Suatu
survei menghasilkan suatu fakta bahwa jurnalis yang bekerja untuk lebih dari
satu platform media cenderung memiliki jam kerja lebih banyak dibanding mereka
yang bekerja untuk satu media tunggal. Survei juga menyatakan bahwa freelancer dan jurnalis multimedia memiliki
jam kerja yang bervariasi setiap minggunya. Uniknya para jurnalis sendiri
tampaknya menerima adanya situasi ini, karena mereka menyadari bahwa jurnalisme
memang dituntut tinggi tingkat fleksibilitasnya. Namun, perlu ditekankan bahwa
tekanan kerja yang tinggi adalah masalah dalam jurnalisme kontemporer.
Tuntutan kecepatan
Saat
ini, kecepatan dianggap sebagai inti dari jurnalisme online. Studi awal
jurnalime online sudah menunjukan kecepatan sebagai elemen konstitutif sentral
dari identitas profesional seorang jurnalis. Dalam sebuah survei, jurnalis
online diminta menjelaskan tentang pekerjaan mereka. Sebagian besar menyatakan
bahwa jurnalisme online menekankan pentingnya pengiriman berita yang konstan
dan realtime. Tekanan untuk menjaga situs web selalui diperbaharui dengan
berita baru juga menjadi aspek kunci dari jurnalisme online. Jurnalis online
sendiri cenderung melihat kebutuhan akan kecepatan sebagai hasil dari inovasi
teknologi. Salah satu contoh portal berita di Indonesia yang menjunjung
kecepatan adalah detik.com.
Pekerjaan
meja meningkat
Penelitian
di Flemish menunjukan bahwa wartawan profesional di sana sering bekerja di
ruangan redaksi, meskipun tetap keluar untuk melakukan liputan. Penelitian ini juga
menunjukan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan wartawan di dalam ruang
redaksi, semakin besar mereka untuk menggunakan siaran pers, materi kantor, dan
konten yang ditebitkan oleh media lain sebagai referensi dari berita yang
mereka susun.
Dari
berbagai hal yang dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi pekerjaan
sebagai pekerja berita, khususnya jurnalis online telah banyak mengalami perubahan.
Kondisi tersebut sebenarnya tidak benar-benar diakibatkan oleh perkembangan
teknologi, melainkan karena ‘obsesi’ manajemen perusahaan media yang mengharapkan
minimalisasi biaya dan maksimalisasi produktivitas yang tentu saja berujung pada
uang. Dampak nyata perubahan tenaga kerja jurnalistik ini adalah pada kualitas
berita dan profesionalisme seorang jurnalis. Oleh karena itu, penting untuk
memantau perkembangan dalam organisasi ketenagakerjaan dan tenaga kerja di
industri berita. Selain itu, penting pula untuk merenungkan bagaimana jurnalis
dapat memberdayakan diri mereka sendiri untuk menghadapi kondisi dunia
jurnalistik yang sudah mengalami perubahan ini.
Demikian
pembahasan kali ini, terimakasih telah berkunjung di blog ini...😸
Selamat
berakhir pekan!
Have
a sweet day!
Paulussen, Steve. 2012. Technology and the Transformation of News Work: Are Labor Conditions in (Online) Journalism Changing? from: The Handbook of Global Online Journalism