Telusuri Blog Ini

Minggu, 26 Mei 2019

Labor Conditions in Online Journalism




Hallo, selamat datang di blog ini!

Mungkin tak banyak dari kalian yang mengetahui seberapa berat pekerjaan seorang tenaga kerja berita. Mungkin ada yang menyangka bahwa pekerjaan mereka itu mudah, hanya meliput berita dan menyampaikannya ke masyaarakat. Apalagi ditambah dengan perkembangan teknologi yang ‘sepertinya’ menambah mudah pekerjaan mereka. Tapi, apakah teknologi bener-benar mempermudah pekerjaan mereka? Ataukah teknologi malah mempersulit mereka? Kali ini bahasan kita mengenai bagaimana kondisi kerja jurnalis dalam konteks berkelanjutan dari digitalisasi dan komersialisasi media, khususnya dalam jurnalisme online. Ok, langsung saja!!

Peran teknologi dalam “kapitalisme baru” tidak dapat diabaikan. Teknologi digital baru sering dianggap sebagai pendorong utama di balik perubahan ekonomi dan organisasi tempat kerja. Industri media telah terpukul oleh resesi ekonomi global beberapa tahun terakhir. Dilaporkan bahwa di Eropa dan Amerika  sejumlah besar orang telah kehilangan pekerjaannya. Selain karena resesi, situasi ini juga merupakan hasil dari perubahan organisasi struktural media yang didorong oleh logika pasar dimana memiliki tujuan untuk mengurangi biaya sambil meningkatkan produktivitas dan memaksimalkan laba. Beberapa studi yang telah dilakukan umumnya melukis gambaran suramnya kerja jurnalistik, yaitu:

Pekerjaan yang tidak lazim dan tidak pasti
Berdasarkan survei global afiliansi Federasi Jurnalis Internasional (IFJ) di 38 negara, diketahui bahwa terdapat pertumbuhan hubungan kerja yang tidak biasa dalam industri media. “Pekerjaan tidak biasa” mengacu pada jenis pekerjaan yang tidak permanen dan/atau penuh waktu, yang sepertinya dapat diidentifikasi sebagai pekerjaan  freelance, kontrak sementara, dan paruh waktu.
Pekerjaan lepas (freelance)
Saat ini telah banyak orang yang menyebut dirinya seorang freelancer. Banyak diantara mereka termotivasi oleh keinginan untuk memiliki lebih banyak kebebasan dan otonomi dalam kehidupan mereka. Namun, tak sedikit juga yang menyatakan bahwa keuangan merupakan salah satu faktor  bagi mereka menjadi seorang freelancer. Dahulu, freelance lebih dikaitkan dengan jurnalis veteran, namun saat ini terlihat bahwa usia rata-rata pekerja lepas semakin menurun. Semakin muda freelancer, semakin besar kemungkinan mereka mendapat konsekuensi negatif, seperti ketidaknyamanan kerja, kurangnya prospek promosi, dan upah yang rendah. Berkatian dengan freelancing jurnalisme online, kemungkinan besar mereka mendapatkan persaingan dari sukarelawan citizen journalist.
Kontrak sementara dan pekerjaan paruh waktu
Ada sebuah persepsi umum dalam industri media, seperti magang yang tak dibayar, penugasan yang dibayar rendah, dan kontrak jangka pendek. Dari hal tersebut kita bisa membayangkan bahwa kontak permanen dan pekerjaan penuh waktu menjadi hal di jurnalisme. Namun, survei wartawan di Flanders tahun 2008 menyatakan bahwa lebih dari tiga perempat jurnalis profesional pada saat itu bekerja dengan kontrak permanen. Tapi, ini bukan berarti menyatakan bahwa pekerjaan berita tidak berubah.
Fleksibilitas fungsional dan multiskilling
fleksibilitas mungkin merupakan istilah yang paling banyak digunakan dalam deskripsi tentang perubahan kondisi kerja dalam jurnalisme. Hal ini akibat upaya manajerial untuk mengembangkan kontrol mereka atas tenaga kerja, dimana mereka membutuhkan profesional dengan banyak keahlian yang mampu melakukan banyak tugas yang berbeda di seluruh organisasi.
Jurnalisme multimedia
Inti dari jurnalis multimedia adalah bahwa jurnalis dituntut untuk dapat menghasilkan konten untuk berbagai platform. Karena perlu disadari bahwa mereka tidak tahu apakah mereka akan bekerja di media cetak, siaran, atau online, jadi mereka harus terbiasa dengan berbagai jenis media. Dalam konteks ruang berita yang konvergen ini, pentingnya multiskilling tampaknya jelas. Sebagian besar wartawan di Flemish mengakui pentingnya kemampuan multimedia ini. temuan ini konsisten dengan studi sebelumnya tentang jurnalisme online di negara lain yang telah menekankan pentingnya keterampilan teknologi untuk jurnalis.
Pelebaran pekerjaan
Wartawan di ruang redaksi konvergen mendapatkan lebih banyak tugas dan tanggung jawab daripada mereka yang hanya bekerja untuk satu media saja. Selain berkutat di ruang berita, kemungkinan besar mereka akan mendapat tugas untuk menjadi “manajer komunitas” yang berperan dalam mengawasi, mengkoordinasi, dan merangsang partisipasi dalam proses produksi berita. Selain itu ada “moderator komentar”, dimana mereka bertanggung jawab untuk memantau dan memfilter reaksi pengguna di situs web organisasi. Ada juga “moderator obrolan”, yang bertugas mengatur obrolan langsung dengan pengguna situs. Tugas-tugas tersebut dilimpahkan kepada jurnalis karena pihak perusahaan media tidak ingin mengeluarkan dana lagi untuk membayar staf khusus.
Beban kerja meningkat
Multiskilling dan pembesaran pekerjaan membebani para jurnalis. Studi tentang komputerisasi dan digitalisasi ruang redaksi menyatakan kekhawatiran tentang tekanan kerja berat muncul di banyak negara. Padahal jika dilihat dalam sejarah, teknologi seharusnya mempermudah dan mempercepat kinerja bukannya menambah beban. Namun, jika kita lihat disisi lain, kita akan menyadari bahwa beban dan tekanan kerja yang dirasakan oleh pekerja berita diakibatkan oleh manajemen perusahaan media. Teknologi selalu digunakan oleh manajemen sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi biaya ruang redaksi. Dengan kata lain, ini bukan karena teknologi, melainkan terntang obsesi manajemen dalam pengurangan biaya dan memaksimalkan produktivitas yang mengarah pada peningkatan beban kerja.
Kekurangan waktu
Suatu survei menghasilkan suatu fakta bahwa jurnalis yang bekerja untuk lebih dari satu platform media cenderung memiliki jam kerja lebih banyak dibanding mereka yang bekerja untuk satu media tunggal. Survei juga menyatakan bahwa freelancer dan jurnalis multimedia memiliki jam kerja yang bervariasi setiap minggunya. Uniknya para jurnalis sendiri tampaknya menerima adanya situasi ini, karena mereka menyadari bahwa jurnalisme memang dituntut tinggi tingkat fleksibilitasnya. Namun, perlu ditekankan bahwa tekanan kerja yang tinggi adalah masalah dalam jurnalisme kontemporer.
Tuntutan kecepatan
Saat ini, kecepatan dianggap sebagai inti dari jurnalisme online. Studi awal jurnalime online sudah menunjukan kecepatan sebagai elemen konstitutif sentral dari identitas profesional seorang jurnalis. Dalam sebuah survei, jurnalis online diminta menjelaskan tentang pekerjaan mereka. Sebagian besar menyatakan bahwa jurnalisme online menekankan pentingnya pengiriman berita yang konstan dan realtime. Tekanan untuk menjaga situs web selalui diperbaharui dengan berita baru juga menjadi aspek kunci dari jurnalisme online. Jurnalis online sendiri cenderung melihat kebutuhan akan kecepatan sebagai hasil dari inovasi teknologi. Salah satu contoh portal berita di Indonesia yang menjunjung kecepatan adalah detik.com.
Pekerjaan meja meningkat
Penelitian di Flemish menunjukan bahwa wartawan profesional di sana sering bekerja di ruangan redaksi, meskipun tetap keluar untuk melakukan liputan. Penelitian ini juga menunjukan bahwa semakin banyak waktu yang dihabiskan wartawan di dalam ruang redaksi, semakin besar mereka untuk menggunakan siaran pers, materi kantor, dan konten yang ditebitkan oleh media lain sebagai referensi dari berita yang mereka susun.  

Dari berbagai hal yang dijelaskan di atas, dapat disimpulkan bahwa kondisi pekerjaan sebagai pekerja berita, khususnya jurnalis online telah banyak mengalami perubahan. Kondisi tersebut sebenarnya tidak benar-benar diakibatkan oleh perkembangan teknologi, melainkan karena ‘obsesi’ manajemen perusahaan media yang mengharapkan minimalisasi biaya dan maksimalisasi produktivitas yang tentu saja berujung pada uang. Dampak nyata perubahan tenaga kerja jurnalistik ini adalah pada kualitas berita dan profesionalisme seorang jurnalis. Oleh karena itu, penting untuk memantau perkembangan dalam organisasi ketenagakerjaan dan tenaga kerja di industri berita. Selain itu, penting pula untuk merenungkan bagaimana jurnalis dapat memberdayakan diri mereka sendiri untuk menghadapi kondisi dunia jurnalistik yang sudah mengalami perubahan ini.

Demikian pembahasan kali ini, terimakasih telah berkunjung di blog ini...😸

Selamat berakhir pekan!
Have a sweet day!

 Daftar pustaka:
Paulussen, Steve. 2012. Technology and the Transformation of News Work: Are Labor Conditions in (Online) Journalism Changing? from: The Handbook of Global Online Journalism



Minggu, 19 Mei 2019

The Rise of The Robo Journalism



Hallo! Selamat datang di blog ini!
Langsung saja!
Sadar atau tidak sadar, teknologi telah berkembang pesat dan memasuki berbagai aspek kehidupan manusia, dari aspek ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, politik, dan sebagainya. Mendengar kalimat perkembangan teknologi, mungkin kalian akan teringat dengan artikel sebelumnya tentang konvergensi media, dimana kehidupan manusia menjadi lebih mudah dengan adanya smartphone. Dengan smartphone dan internet, kita menjadi mudah mendapatkan informasi lewat media online, yang berdampak pada menurunnya usaha media cetak karena mereka mulai meng-upgrade-diri menjadi media online. Namun, ternyata tak sampai di situ perkembangannya, media online, khususnya online journalism mulai mencari cara agar mereka lebih cepat dan mudah dalam menghasilkan berita. Salah satunya adalah dengan terciptanya Robo Journalist.

Robo Jurnalist atau jurnalis robot merupakan penggunaan mesin tanpa campur tangan reporter manusia untuk menghasilkan laporan atau artikel. Konteks robot di sini bukanlah robot dalam bentuk fisik, melain suatu sistem yang sudah terprogram pada perangkat lunak redaksi. Jurnalisme robot merupakan salah satu jenis dari computer-assisted reporting (CAR) tingkat lanjut. CAR, didefinisikan sebagai penggunaan program database, spreadsheet, dan paket statistik untuk mengintepretasikan informasi (Kim dan Kim, 2016). Ada 5 langkah dalam algoritma Robo Journalist, yaitu: 
Ada 5 langkah dalam algoritma Robo Journalist, yaitu: 
a)         mencari dan mengidentifikasi data yang relevan dalam basis data dan sumber data lainnya;
b)        "membersihkan" dan mengkategorikan data-data yang masih mentah;
c)         mengidentifikasi fakta-fakta kunci sambil memprioritaskan, membandingkan, dan menyatukan data yang terpisah;
d)        mengatur data menjadi bentuk semantik naratif;
e)         mendistribusikan dan menerbitkan output jurnalistik konten tektual (kadang visual), tersedia dalam berbagai gaya bahasa, dan tingkat kompleksitas tata bahasa (Bunz, 2013; Dorr, 2015; Ghuman dan Kumari, 2013; Weiner, 2014) 

Beritagar.id merupakan media pertama di Indonesia yang menggunakan pemakaian Artificial Intellegence (AI) dalam proses produksi berita seperti mengumpulkan data, menulis berita, hingga memuat berita sendiri pada laman web tanpa bantuan manusia. Robo Journalist dalam Beritagar.id diberi nama Robotorial. Untuk sekarang ini, berita yang ditulis oleh Robo Journalist masih berupa berita yang memiliki struktur tetap, seperti pertandingan sepak bola, pasar saham, bencana alam (khususnya gempa bumi), perkiraan cuaca, serta jadwal suatu kegiatan (ex: jadwal sholat bulan ramadhan).

Dari beberapa penjelasan di atas maka akan muncul pertanyaan:
Apakah dengan adanya jurnalis robot maka peran manusia sebagai pewarta berita akan tergantikan?

Sebenarnya ada dua pemikiran mengenai dampak adanya Robo Journalist. Bagi jurnalis pesimis, adanya Robo Journalism akan dilihat sebagai sebuah ancaman bagi ladang pekerjaannya. Sedangkan bagi jurnalis yang optimis, akan menganggap bahwa Robo Journalist bisa membantunya lebih produktif dalam membuat berita. Karena pada dasarnya, jurnalis robot digunakan untuk menggantikan kerja wartawan dalam menulis artikel yang sifatnya statistik dan berulang, sehingga membuat wartawan lainnya dapat mengerjakan artikel yang sifatnya analisis dan mendalam, seperti laporan inversigatif dan in-depth-repoting. Selain itu, karena saat ini jurnalis robot hanya bisa menggunakan bahasa baku yang terkesan kaku maka, produk jurnalistik berupa feature akan tetap dihasilkan oleh jurnalis manusia. Jadi, beberapa aspek kualitas seperti jelas dan menyenangkan untuk dibaca dimiliki oleh konten yang ditulis jurnalis manusia, sedangkan apek kualitas berupa kepercayaan, informatif, dan objektif dimiliki oleh jurnalis robot.

Dari pernyataan sebelumnya akan muncul pertanyaan lain yaitu:
Apakah dengan presisi robot masih akan memunculkan kesalahan berita?

Kesalahan berita kemungkinan masih bisa terjadi. Apalagi karena sistem kerja AI dalam jurnalis robot yang hanya mengambil beberapa artikel kemudian meringkasnya menjadi sebuah artikel baru. Bisa jadi salah satu sumber artikelnya kurang kredibel atau bisa jadi merupakan artikel hoax, dilihat dari banyaknya berita hoax beberapa tahun terakhir ini. Karena pada dasarnya, jurnalis robot tidak seperti jurnalis manusia yang memiliki intuisi ‘ada yang aneh dengan sumber ini’ dan juga kemampuan untuk memverifikasi ke berbagai sumber informasi. Kasus seperti ini terjadi pada jurnalis robot LA Times dimana pada saat ini melaporkan peristiwa gempa bumi 6,8 SR di California, padahal penduduk di California tidak merasakan gempa. Ternyata, kesalahan terjadi karena staf USGS yang baru saja mempublikasikan data gempa tahun 1925.

Dari beberapa penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Robo-Journalist belum bisa menggantikan seluruh kinerja jurnalis manusia, karena jurnalis robot masih memiliki banyak kekurangan. Namun, apabila jurnalis robot dan jurnalis manusia bisa berkolaborasi dengan baik, maka mereka berdua bisa saling mengisi kekurangan dan kemungkinan besar akan meningkatkan kualitas produk jurnalistik.  

Terima kasih telah berkunjung di blog ini. Nantikan postingan selanjutnya minggu depan. Maaf juga karena agak terlambat dalam memposting ini.

Selamat menghabiskan sisa akhir pekanmu!
Have a sweet Dream!

Daftar Pustaka:
Ariestyani, Kencana. 2019. “Meninjau Automated Journalism: Tantangan dan Peluang di Industri Media Indonesia”.  Jurnal Konvergensi. Vol. 01(01) Hlm. 51-65.
Tal Montal, Zvi Reich. 30 Aug 2018 ,The Death of the Author, the Rise of the RoboJournalist from: The Routledge Handbook of Developments in Digital Journalism Studies Routledge.
Amran, S. Oktika dan Irwansyah. 2018“Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id”.  Jurnal IPTEK-KOM. Vol. 20 (2) Hlm. 169-182.