Hallo! Selamat datang di blog ini!
Sesuai judulnya, kali ini saya akan membahas tentang Online Journalism and Civic Life.
Saya
menggunakan Handbook of Global Online Journalism sebagai bahan referensi, khususnya Part II.
Langsung saja...!
Baru-baru
ini, teori demokrasi telah menyoroti peran media yang semakin penting dalam arena diskusi publik. Salah satu teori yang berkaitan dengan komunikasi publik
dan peran media adalah model demokrasi deliberatif. Model demokrasi deliberatif
ini menyiratkan proses komunikasi yang mampu menopang adanya ruang publik yang
mana merupakan medium untuk mengomunikasikan informasi dan juga pandangan. Dalam
perkembangannya, ruang publik tidak hanya berupa areal dalam dunia nyata tetapi
juga dalam dunia maya.
Terlepas
dari pengakuan akan peran penting media dalam proses demokrasi, pada
kenyataannya banyak media tradisional didominasi oleh kepentingan kekuasaan
politik dan uang. Seperti misalnya MNCTV, RCTI, dan GTV yang selalu menggaungkan
Mars Perindo maupun berita yang berhubungan dengan kegiatan Partai Perindo, dimana
pemilik media dan ketua umum partai tersebut adalah orang yang sama yaitu Hary
Tanoesoedibjo. Ataupun Surya Paloh dengan MetroTv dan Partai Nasdem-nya. Dalam
kepentingan “uang”, ada ANTV yang ketika berhasil pada suatu program acara,
maka akan terus setia atau membuat acara baru yang berhubungan dengan program
yang sukses itu. Contohnya adalah Serial India Mahabarata yang sukses tayang
sehingga memunculkan banyak serial India lain, seperti Jodha Akbar, Ashoka, Uttaran,
Anandhi, Thapki, Lonceng Cinta, Chandra Nandini, dll. Akhirnya dalam sehari,
lebih dari 4 judul serial India tayang di ANTV dengan durasi 30 menit sampai
beberapa jam. ANTV juga mengundang para pemain serial India itu untuk muncul di
tayangan ANTV lainnya. Tapi, jika kalian masih ingat, ada kasus lain yang lebih
menggelitik, yaitu pernikahan Raffi Ahmad-Nagita Slavina yang ditayangkan live selama
berjam-jam di RCTI dan TransTV pada 2014 lalu. Hal-hal tersebut membuka mata
kita bahwa industri media mulai mengabaikan kepentingan publik yang merupakan
kepentingan utama. Pada akhirnya publik mulai bosan dengan fitur-fitur yang
disajikan oleh media tradisional.
Dengan
munculnya media baru, khususnya internet, telah memberikan harapan baru bagi kepentingan
publik. Bersamaan dengan munculnya jurnalisme online yang menyajikan fitur-fitur
alternatif yang tidak didapatkan dari media tradisional. Jurnalisme Online dapat
memungkinkan interaktivitas yang kuat dengan publik dan melahirkan generasi
baru dari diskusi publik. Dengan adanya jurnalisme online maka semua warga negara
memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses demokrasi. Jurnalisme online diklasifikasikan
menjadi dua jenis, yaitu Jurnalisme Warga dan Jurnalisme Partisipatif.
Ø
Jurnalisme Warga, yaitu jenis jurnalisme online
di mana warga memproduksi informasi kemudiaan diterbitkan oleh dirinya sendiri.
contohnya menulis artikel di blog, mengekspresikan pemikiran di media sosial tentang
kinerja presiden selama menjabat, dll.
Ø
Jurnalisme Partisipatif, yaitu diciptakan di dalam
jurnalisme arus utama, yang sekarang menerima gagasan dari pengguna berita. Sehingga
mereka berkesempatan mengekspresikan pandangan mereka tentang urusan publik. Dalam
jurnalisme partisipatif, pengguna berita dapat berpartisipasi dalam proses
pembuatan berita, tetapi kontribusi pengguna berada dalam bingkai yang
dirancang oleh para profesional di dalam konteks arus utama. Misal: foto,
video, artikel, dan laporan yang dikirim oleh pembaca
akan diperiksa dan disaring terlebih dahulu oleh staf profesional sebelum
dipublikasikan.
Namun,
jurnalisme online ini pun tidak lepas dari kritikan. Pendukung jurnalisme partisipatif
menganggap seolah-olah hanya jurnalis yang bertanggung jawab atas pengaturan gerbang informasi dan agenda setting. Hal itu terjadi karena adanya pemfilteran oleh staf
profesional sebelum dipublikasikan. Pendukung jurnalisme partisipatif juga menyatakan
penggantian parsial mereka (wartawan) dengan orang-orang tanpa pelatihan khusus
menjadi langkah maju dalam demokratisasi. Kritik lain dari jurnalisme
partisipatif adalah pada fetisisme
kecepatan publikasi yang didorong oleh teknologi baru akan beresiko dalam hal
akurasi. Ungkapan “terbitkan kemudian filter” menjadi ungkapan paling jelas dari
kolaborasi sukarela warga biasa. Hal ini mengakibatkan informasi yang
diterbitkan kemungkinan besar belum sepenuhnya terverifikasi. Kritik pada
jurnalisme warga adalah pada kredibilitas informasinya. Apakah benar-benar bisa
dipercaya atau tidak, karena bagaimana pun warga biasa dan seorang jurnalis
memiliki kemampuan yang berbeda. Fenomena hoaks yang sedang terjadi di
mana-mana diindikasikan berasal dari kebebasan yang dimiliki setiap orang dalam
memproduksi dan menyebarkan suatu informasi.
Dalam perkembangannya, telah banyak studi berkaitan dengan
jurnalisme online, yang hasilnya antara lain:
Ø
Dampak internet pada media
tradisional pada kenyataanya tidak sepenuhnya mengubah rutinitas tradisional.
Ø
Meskipun interaktivitas adalah
kata kunci dari jurnalisme online, jurnalis masih terus dipandang sebagai
produsen dan pengguna sebagai konsumen.
Ø
Dalam ruang redaksi online, nilai
berita yang paling sering dicari adalah kedekatan dan tujuan utamanya berupa
publikasi secepat mungkin.
Ø
Orang masih sering mencari halaman
web dari media tradisional. Misalnya jika seseorang biasa membaca koran kompas,
maka ia pun akan lebih sering membuka halaman web dari koran kompas, yaitu
kompas.com. sama halnya dengan koran sindo (sindonews.com), koran tribun (tribunnews.com).
Ø
Blog yang ditulis oleh warga biasa
menggunakan media mainstream untuk sumber referensi.
Ø
Meskipun internet telah memberikan
kebebasan berekspresi kepada siapapun, tapi teori spiral of silence (kecenderungan
untuk diam jika merasa menjadi minoritas) masih tetap berlaku. Misalnya ketika akun
Indonesia Tanpa Pacaran memposing sesuatu dan kita kurang setuju, namun kita tak berani berkomentar karena kebanyakan yang berkomentar
di sana setuju dengan apa yang disampaikan dalam postingan itu.
Ø Polarisasi dan konformitas yang
terjadi di internet. Internet meningkatkan kemungkinan bagi orang untuk mendengar
suara mereka sendiri dan menutup diri dari orang lain. Orang-orang akan
membentuk dan atau bergabung dengan kelompok yang sesuai dengan pandangan mereka.
Contoh: akun Indonesia Tanpa Logika, akun Indonesia Tanpa Sobat Gurun, akun
Indonesia Boleh Pacaran, dan akun Anti Nikah Dini merupakan akun-akun instagram
yang lahir dari ketidaksetujuan akan isi postingan akun Indonesia Tanpa
Pacaran.
Demikian
pembahasan tentang Online Journalism and Civic Life. Terima kasih atas
kunjungan kalian di blog ini. Nantikan postingan selanjutnya minggu depan.
Selamat berakhir pekan!
Have a sweet day!