Hallo!
Selamat datang di blog ini!
Langsung saja!
Sadar atau tidak sadar, teknologi telah
berkembang pesat dan memasuki berbagai aspek kehidupan manusia, dari aspek ekonomi,
sosial, budaya, pendidikan, politik, dan sebagainya. Mendengar kalimat
perkembangan teknologi, mungkin kalian akan teringat dengan artikel sebelumnya tentang
konvergensi media, dimana kehidupan manusia menjadi lebih mudah dengan adanya
smartphone. Dengan smartphone dan internet, kita menjadi mudah mendapatkan informasi
lewat media online, yang berdampak pada menurunnya usaha media cetak karena mereka
mulai meng-upgrade-diri menjadi media
online. Namun, ternyata tak sampai di situ perkembangannya, media online,
khususnya online journalism mulai mencari
cara agar mereka lebih cepat dan mudah dalam menghasilkan berita. Salah satunya
adalah dengan terciptanya Robo Journalist.
Robo Jurnalist atau jurnalis robot merupakan penggunaan mesin
tanpa campur tangan reporter manusia untuk menghasilkan laporan atau artikel.
Konteks robot di sini bukanlah robot dalam bentuk fisik, melain suatu sistem
yang sudah terprogram pada perangkat lunak redaksi. Jurnalisme robot merupakan
salah satu jenis dari computer-assisted reporting (CAR) tingkat lanjut. CAR, didefinisikan sebagai penggunaan
program database, spreadsheet, dan paket statistik
untuk mengintepretasikan informasi (Kim dan Kim, 2016). Ada 5 langkah dalam
algoritma Robo Journalist, yaitu:
Ada 5 langkah dalam algoritma Robo Journalist, yaitu:
a)
mencari dan mengidentifikasi data yang relevan dalam basis data dan sumber
data lainnya;
b)
"membersihkan" dan mengkategorikan data-data yang masih mentah;
c)
mengidentifikasi fakta-fakta kunci sambil memprioritaskan, membandingkan,
dan menyatukan data yang terpisah;
d)
mengatur data menjadi bentuk semantik naratif;
e)
mendistribusikan dan menerbitkan output jurnalistik konten tektual (kadang
visual), tersedia dalam berbagai gaya bahasa, dan tingkat kompleksitas tata
bahasa (Bunz, 2013; Dorr, 2015; Ghuman dan Kumari, 2013; Weiner, 2014)
Beritagar.id
merupakan media pertama di Indonesia yang menggunakan pemakaian Artificial
Intellegence (AI) dalam proses produksi berita seperti mengumpulkan data,
menulis berita, hingga memuat berita sendiri pada laman web tanpa bantuan
manusia. Robo Journalist dalam Beritagar.id diberi nama Robotorial. Untuk
sekarang ini, berita yang ditulis oleh Robo Journalist masih berupa berita yang
memiliki struktur tetap, seperti pertandingan sepak bola, pasar saham, bencana
alam (khususnya gempa bumi), perkiraan cuaca, serta jadwal suatu kegiatan (ex:
jadwal sholat bulan ramadhan).
Dari
beberapa penjelasan di atas maka akan muncul pertanyaan:
Apakah dengan adanya jurnalis robot
maka peran manusia sebagai pewarta berita akan tergantikan?
Sebenarnya
ada dua pemikiran mengenai dampak adanya Robo Journalist. Bagi jurnalis pesimis,
adanya Robo Journalism akan dilihat sebagai sebuah ancaman bagi ladang pekerjaannya.
Sedangkan bagi jurnalis yang optimis, akan menganggap bahwa Robo Journalist bisa
membantunya lebih produktif dalam membuat berita. Karena pada dasarnya, jurnalis
robot digunakan untuk menggantikan kerja wartawan dalam menulis artikel yang
sifatnya statistik dan berulang, sehingga membuat wartawan lainnya dapat mengerjakan
artikel yang sifatnya analisis dan mendalam, seperti laporan inversigatif dan in-depth-repoting. Selain itu, karena
saat ini jurnalis robot hanya bisa menggunakan bahasa baku yang terkesan kaku
maka, produk jurnalistik berupa feature akan tetap dihasilkan oleh jurnalis
manusia. Jadi, beberapa aspek kualitas seperti jelas dan menyenangkan untuk
dibaca dimiliki oleh konten yang ditulis jurnalis manusia, sedangkan apek
kualitas berupa kepercayaan, informatif, dan objektif dimiliki oleh jurnalis
robot.
Dari
pernyataan sebelumnya akan muncul pertanyaan lain yaitu:
Apakah dengan presisi robot masih
akan memunculkan kesalahan berita?
Kesalahan
berita kemungkinan masih bisa terjadi. Apalagi karena sistem kerja AI dalam
jurnalis robot yang hanya mengambil beberapa artikel kemudian meringkasnya
menjadi sebuah artikel baru. Bisa jadi salah satu sumber artikelnya kurang kredibel
atau bisa jadi merupakan artikel hoax, dilihat dari banyaknya berita hoax beberapa
tahun terakhir ini. Karena pada dasarnya, jurnalis robot tidak seperti jurnalis
manusia yang memiliki intuisi ‘ada yang aneh dengan sumber ini’ dan juga
kemampuan untuk memverifikasi ke berbagai sumber informasi. Kasus seperti ini
terjadi pada jurnalis robot LA Times dimana pada saat ini melaporkan peristiwa
gempa bumi 6,8 SR di California, padahal penduduk di California tidak merasakan
gempa. Ternyata, kesalahan terjadi karena staf USGS yang baru saja
mempublikasikan data gempa tahun 1925.
Dari
beberapa penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Robo-Journalist belum bisa menggantikan
seluruh kinerja jurnalis manusia, karena jurnalis robot masih memiliki banyak
kekurangan. Namun, apabila jurnalis robot dan jurnalis manusia bisa
berkolaborasi dengan baik, maka mereka berdua bisa saling mengisi kekurangan
dan kemungkinan besar akan meningkatkan kualitas produk jurnalistik.
Terima kasih telah berkunjung di
blog ini. Nantikan postingan selanjutnya minggu depan. Maaf juga karena agak
terlambat dalam memposting ini.
Selamat
menghabiskan sisa akhir pekanmu!
Have
a sweet Dream!
Daftar Pustaka:
Ariestyani, Kencana. 2019. “Meninjau Automated Journalism: Tantangan dan Peluang di Industri Media Indonesia”. Jurnal Konvergensi.
Vol. 01(01) Hlm. 51-65.
Tal
Montal, Zvi Reich. 30 Aug 2018 ,The Death of the Author, the Rise of the
RoboJournalist from: The Routledge
Handbook of Developments in Digital Journalism Studies Routledge.
Amran, S. Oktika dan Irwansyah. 2018. “Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id”. Jurnal IPTEK-KOM. Vol. 20 (2) Hlm. 169-182.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar