Telusuri Blog Ini

Minggu, 19 Mei 2019

The Rise of The Robo Journalism



Hallo! Selamat datang di blog ini!
Langsung saja!
Sadar atau tidak sadar, teknologi telah berkembang pesat dan memasuki berbagai aspek kehidupan manusia, dari aspek ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, politik, dan sebagainya. Mendengar kalimat perkembangan teknologi, mungkin kalian akan teringat dengan artikel sebelumnya tentang konvergensi media, dimana kehidupan manusia menjadi lebih mudah dengan adanya smartphone. Dengan smartphone dan internet, kita menjadi mudah mendapatkan informasi lewat media online, yang berdampak pada menurunnya usaha media cetak karena mereka mulai meng-upgrade-diri menjadi media online. Namun, ternyata tak sampai di situ perkembangannya, media online, khususnya online journalism mulai mencari cara agar mereka lebih cepat dan mudah dalam menghasilkan berita. Salah satunya adalah dengan terciptanya Robo Journalist.

Robo Jurnalist atau jurnalis robot merupakan penggunaan mesin tanpa campur tangan reporter manusia untuk menghasilkan laporan atau artikel. Konteks robot di sini bukanlah robot dalam bentuk fisik, melain suatu sistem yang sudah terprogram pada perangkat lunak redaksi. Jurnalisme robot merupakan salah satu jenis dari computer-assisted reporting (CAR) tingkat lanjut. CAR, didefinisikan sebagai penggunaan program database, spreadsheet, dan paket statistik untuk mengintepretasikan informasi (Kim dan Kim, 2016). Ada 5 langkah dalam algoritma Robo Journalist, yaitu: 
Ada 5 langkah dalam algoritma Robo Journalist, yaitu: 
a)         mencari dan mengidentifikasi data yang relevan dalam basis data dan sumber data lainnya;
b)        "membersihkan" dan mengkategorikan data-data yang masih mentah;
c)         mengidentifikasi fakta-fakta kunci sambil memprioritaskan, membandingkan, dan menyatukan data yang terpisah;
d)        mengatur data menjadi bentuk semantik naratif;
e)         mendistribusikan dan menerbitkan output jurnalistik konten tektual (kadang visual), tersedia dalam berbagai gaya bahasa, dan tingkat kompleksitas tata bahasa (Bunz, 2013; Dorr, 2015; Ghuman dan Kumari, 2013; Weiner, 2014) 

Beritagar.id merupakan media pertama di Indonesia yang menggunakan pemakaian Artificial Intellegence (AI) dalam proses produksi berita seperti mengumpulkan data, menulis berita, hingga memuat berita sendiri pada laman web tanpa bantuan manusia. Robo Journalist dalam Beritagar.id diberi nama Robotorial. Untuk sekarang ini, berita yang ditulis oleh Robo Journalist masih berupa berita yang memiliki struktur tetap, seperti pertandingan sepak bola, pasar saham, bencana alam (khususnya gempa bumi), perkiraan cuaca, serta jadwal suatu kegiatan (ex: jadwal sholat bulan ramadhan).

Dari beberapa penjelasan di atas maka akan muncul pertanyaan:
Apakah dengan adanya jurnalis robot maka peran manusia sebagai pewarta berita akan tergantikan?

Sebenarnya ada dua pemikiran mengenai dampak adanya Robo Journalist. Bagi jurnalis pesimis, adanya Robo Journalism akan dilihat sebagai sebuah ancaman bagi ladang pekerjaannya. Sedangkan bagi jurnalis yang optimis, akan menganggap bahwa Robo Journalist bisa membantunya lebih produktif dalam membuat berita. Karena pada dasarnya, jurnalis robot digunakan untuk menggantikan kerja wartawan dalam menulis artikel yang sifatnya statistik dan berulang, sehingga membuat wartawan lainnya dapat mengerjakan artikel yang sifatnya analisis dan mendalam, seperti laporan inversigatif dan in-depth-repoting. Selain itu, karena saat ini jurnalis robot hanya bisa menggunakan bahasa baku yang terkesan kaku maka, produk jurnalistik berupa feature akan tetap dihasilkan oleh jurnalis manusia. Jadi, beberapa aspek kualitas seperti jelas dan menyenangkan untuk dibaca dimiliki oleh konten yang ditulis jurnalis manusia, sedangkan apek kualitas berupa kepercayaan, informatif, dan objektif dimiliki oleh jurnalis robot.

Dari pernyataan sebelumnya akan muncul pertanyaan lain yaitu:
Apakah dengan presisi robot masih akan memunculkan kesalahan berita?

Kesalahan berita kemungkinan masih bisa terjadi. Apalagi karena sistem kerja AI dalam jurnalis robot yang hanya mengambil beberapa artikel kemudian meringkasnya menjadi sebuah artikel baru. Bisa jadi salah satu sumber artikelnya kurang kredibel atau bisa jadi merupakan artikel hoax, dilihat dari banyaknya berita hoax beberapa tahun terakhir ini. Karena pada dasarnya, jurnalis robot tidak seperti jurnalis manusia yang memiliki intuisi ‘ada yang aneh dengan sumber ini’ dan juga kemampuan untuk memverifikasi ke berbagai sumber informasi. Kasus seperti ini terjadi pada jurnalis robot LA Times dimana pada saat ini melaporkan peristiwa gempa bumi 6,8 SR di California, padahal penduduk di California tidak merasakan gempa. Ternyata, kesalahan terjadi karena staf USGS yang baru saja mempublikasikan data gempa tahun 1925.

Dari beberapa penjelasan di atas, bisa disimpulkan bahwa Robo-Journalist belum bisa menggantikan seluruh kinerja jurnalis manusia, karena jurnalis robot masih memiliki banyak kekurangan. Namun, apabila jurnalis robot dan jurnalis manusia bisa berkolaborasi dengan baik, maka mereka berdua bisa saling mengisi kekurangan dan kemungkinan besar akan meningkatkan kualitas produk jurnalistik.  

Terima kasih telah berkunjung di blog ini. Nantikan postingan selanjutnya minggu depan. Maaf juga karena agak terlambat dalam memposting ini.

Selamat menghabiskan sisa akhir pekanmu!
Have a sweet Dream!

Daftar Pustaka:
Ariestyani, Kencana. 2019. “Meninjau Automated Journalism: Tantangan dan Peluang di Industri Media Indonesia”.  Jurnal Konvergensi. Vol. 01(01) Hlm. 51-65.
Tal Montal, Zvi Reich. 30 Aug 2018 ,The Death of the Author, the Rise of the RoboJournalist from: The Routledge Handbook of Developments in Digital Journalism Studies Routledge.
Amran, S. Oktika dan Irwansyah. 2018“Jurnalisme Robot dalam Media Daring Beritagar.id”.  Jurnal IPTEK-KOM. Vol. 20 (2) Hlm. 169-182.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar