Telusuri Blog Ini

Minggu, 31 Maret 2019

Online Journalism and Civic Life




Hallo! Selamat datang di blog ini!

Sesuai judulnya, kali ini saya akan membahas tentang Online Journalism and Civic Life.
Saya menggunakan Handbook of Global Online Journalism sebagai bahan referensi, khususnya Part II.
Langsung saja...!
Baru-baru ini, teori demokrasi telah menyoroti peran media yang semakin penting dalam arena diskusi publik. Salah satu teori yang berkaitan dengan komunikasi publik dan peran media adalah model demokrasi deliberatif. Model demokrasi deliberatif ini menyiratkan proses komunikasi yang mampu menopang adanya ruang publik yang mana merupakan medium untuk mengomunikasikan informasi dan juga pandangan. Dalam perkembangannya, ruang publik tidak hanya berupa areal dalam dunia nyata tetapi juga dalam dunia maya.

Terlepas dari pengakuan akan peran penting media dalam proses demokrasi, pada kenyataannya banyak media tradisional didominasi oleh kepentingan kekuasaan politik dan uang. Seperti misalnya MNCTV, RCTI, dan GTV yang selalu menggaungkan Mars Perindo maupun berita yang berhubungan dengan kegiatan Partai Perindo, dimana pemilik media dan ketua umum partai tersebut adalah orang yang sama yaitu Hary Tanoesoedibjo. Ataupun Surya Paloh dengan MetroTv dan Partai Nasdem-nya. Dalam kepentingan “uang”, ada ANTV yang ketika berhasil pada suatu program acara, maka akan terus setia atau membuat acara baru yang berhubungan dengan program yang sukses itu. Contohnya adalah Serial India Mahabarata yang sukses tayang sehingga memunculkan banyak serial India lain, seperti Jodha Akbar, Ashoka, Uttaran, Anandhi, Thapki, Lonceng Cinta, Chandra Nandini, dll. Akhirnya dalam sehari, lebih dari 4 judul serial India tayang di ANTV dengan durasi 30 menit sampai beberapa jam. ANTV juga mengundang para pemain serial India itu untuk muncul di tayangan ANTV lainnya. Tapi, jika kalian masih ingat, ada kasus lain yang lebih menggelitik, yaitu pernikahan Raffi Ahmad-Nagita Slavina yang ditayangkan live selama berjam-jam di RCTI dan TransTV pada 2014 lalu. Hal-hal tersebut membuka mata kita bahwa industri media mulai mengabaikan kepentingan publik yang merupakan kepentingan utama. Pada akhirnya publik mulai bosan dengan fitur-fitur yang disajikan oleh media tradisional.

Dengan munculnya media baru, khususnya internet, telah memberikan harapan baru bagi kepentingan publik. Bersamaan dengan munculnya jurnalisme online yang menyajikan fitur-fitur alternatif yang tidak didapatkan dari media tradisional. Jurnalisme Online dapat memungkinkan interaktivitas yang kuat dengan publik dan melahirkan generasi baru dari diskusi publik. Dengan adanya jurnalisme online maka semua warga negara memiliki kesempatan untuk terlibat dalam proses demokrasi. Jurnalisme online diklasifikasikan menjadi dua jenis, yaitu Jurnalisme Warga dan Jurnalisme Partisipatif.
Ø Jurnalisme Warga, yaitu jenis jurnalisme online di mana warga memproduksi informasi kemudiaan diterbitkan oleh dirinya sendiri. contohnya menulis artikel di blog, mengekspresikan pemikiran di media sosial tentang kinerja presiden selama menjabat, dll.
Ø Jurnalisme Partisipatif, yaitu diciptakan di dalam jurnalisme arus utama, yang sekarang menerima gagasan dari pengguna berita. Sehingga mereka berkesempatan mengekspresikan pandangan mereka tentang urusan publik. Dalam jurnalisme partisipatif, pengguna berita dapat berpartisipasi dalam proses pembuatan berita, tetapi kontribusi pengguna berada dalam bingkai yang dirancang oleh para profesional di dalam konteks arus utama. Misal: foto, video, artikel, dan laporan yang dikirim oleh pembaca akan diperiksa dan disaring terlebih dahulu oleh staf profesional sebelum dipublikasikan.

Namun, jurnalisme online ini pun tidak lepas dari kritikan. Pendukung jurnalisme partisipatif menganggap seolah-olah hanya jurnalis yang bertanggung jawab atas pengaturan gerbang informasi dan agenda setting. Hal itu terjadi karena adanya pemfilteran oleh staf profesional sebelum dipublikasikan. Pendukung jurnalisme partisipatif juga menyatakan penggantian parsial mereka (wartawan) dengan orang-orang tanpa pelatihan khusus menjadi langkah maju dalam demokratisasi. Kritik lain dari jurnalisme partisipatif adalah  pada fetisisme kecepatan publikasi yang didorong oleh teknologi baru akan beresiko dalam hal akurasi. Ungkapan “terbitkan kemudian filter” menjadi ungkapan paling jelas dari kolaborasi sukarela warga biasa. Hal ini mengakibatkan informasi yang diterbitkan kemungkinan besar belum sepenuhnya terverifikasi. Kritik pada jurnalisme warga adalah pada kredibilitas informasinya. Apakah benar-benar bisa dipercaya atau tidak, karena bagaimana pun warga biasa dan seorang jurnalis memiliki kemampuan yang berbeda. Fenomena hoaks yang sedang terjadi di mana-mana diindikasikan berasal dari kebebasan yang dimiliki setiap orang dalam memproduksi dan menyebarkan suatu informasi.

Dalam perkembangannya, telah banyak studi berkaitan dengan jurnalisme online, yang hasilnya antara lain:
Ø Dampak internet pada media tradisional pada kenyataanya tidak sepenuhnya mengubah rutinitas tradisional.
Ø Meskipun interaktivitas adalah kata kunci dari jurnalisme online, jurnalis masih terus dipandang sebagai produsen dan pengguna sebagai konsumen.
Ø Dalam ruang redaksi online, nilai berita yang paling sering dicari adalah kedekatan dan tujuan utamanya berupa publikasi secepat mungkin.
Ø Orang masih sering mencari halaman web dari media tradisional. Misalnya jika seseorang biasa membaca koran kompas, maka ia pun akan lebih sering membuka halaman web dari koran kompas, yaitu kompas.com. sama halnya dengan koran sindo (sindonews.com), koran tribun (tribunnews.com).
Ø Blog yang ditulis oleh warga biasa menggunakan media mainstream untuk sumber referensi.
Ø Meskipun internet telah memberikan kebebasan berekspresi kepada siapapun, tapi teori spiral of silence (kecenderungan untuk diam jika merasa menjadi minoritas) masih tetap berlaku. Misalnya ketika akun Indonesia Tanpa Pacaran memposing sesuatu dan kita kurang setuju, namun kita tak berani berkomentar karena kebanyakan yang berkomentar di sana setuju dengan apa yang disampaikan dalam postingan itu.
Ø  Polarisasi dan konformitas yang terjadi di internet. Internet meningkatkan kemungkinan bagi orang untuk mendengar suara mereka sendiri dan menutup diri dari orang lain. Orang-orang akan membentuk dan atau bergabung dengan kelompok yang sesuai dengan pandangan mereka. Contoh: akun Indonesia Tanpa Logika, akun Indonesia Tanpa Sobat Gurun, akun Indonesia Boleh Pacaran, dan akun Anti Nikah Dini merupakan akun-akun instagram yang lahir dari ketidaksetujuan akan isi postingan akun Indonesia Tanpa Pacaran.

Demikian pembahasan tentang Online Journalism and Civic Life. Terima kasih atas kunjungan kalian di blog ini. Nantikan postingan selanjutnya minggu depan.

Selamat berakhir pekan!
Have a sweet day!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar